Asli Indonesia! Deretan Merk Terkenal Ini Sering Disangka Merk Asing, Lho

Asli Indonesia atau Made in Indonesia! Kebanggan memiliki sederet merk asli Indonesia yang terkenal di luar negeri dirasakan oleh mahasiswa atau warga negara Indonesia yang sedang di negara asing.

Tahukah kamu, produk-produk Indonesia tak kalah kualitasnya lho dengan buatan Eropa atau Amerika Serikat. Ditambah trik marketing, malah produk asli Indonesia disangka impor dari luar negeri.

Bila ditilik, pengusaha Indonesia memiliki kreativitas kemampuan untuk bersaing dengan produk negara lain di pasar bebas. Kreativitas menjadi daya saing untuk bersaing, tentu ini membanggakan di saat produk impor gencar masuk ke Indonesia.

Baca Juga: Facebook Ads vs Google Ads, Mana yang Paling Tepat Untuk Bisnis Anda ?

Padahal, kita punya sederet merk dalam negeri yang mempunyai kualitas baik. Kualitas yang baik dapat diterima oleh konsumen sehingga mendapat tempat bahkan sampai di luar negeri.


Nah, berikut ini kami sajikan sederet produk asli Indonesia yang sering disangka buatan luar negeri:

Jeans Lea, Ternyata Asli Indonesia

Asli Indonesia! Deretan Merk Terkenal Ini Sering Disangka Merk Asing, Lho

Apa yang terbesit saat menyebut celana jeans? Beberapa hal ini mungkin terlintas : celana kaku berbahan tebal, penambang emas atau Levi’s. Yang terakhir adalah “penemu” celana yang awet dan bandel ini. Levi Strauss lalu mematenkan produknya dengan merk “Levi’s” dan memasarkanya ke seluruh dunia dan menjadi ikon fashion.

Namun di Indonesia, merk yang menjadi ikon dunia itu berhadapan dengan produk local dengan merk “LEA”. Sepintas merk itu memang dari Amerika, namun sejatinya produk itu adalah asli Indonesia yang dihasilkan dari PT Lea Sanent, Jakarta.

Merk, design dan tata kelola perusahaan dicetuskan oleh Gani Sandjaja, seorang pengusaha yang awalnya berbisnis kuliner dan seni pertunjukan. Terinspirasi dari merk legendaris dan mengambil nama dari putri sulungnya, Gani Sandjaja bertekad membuat produk lokal berstandar dunia.

Ketika muncul pertama kali tahun 1973, fashion dengan merk LEA memilih Singapura sebagai pasar pertama. Hal ini sekaligus menjadi strategi menjajaki selera internasional. Sebagai negara kota dengan tingkat hunian Internasional tinggi, menjadi tempat yang tepat sebagai laboratorium uji coba daya saing Internasional.

Untuk menancapkan citra merk luar negeri dan menggenjot penjualan, program promo yang digunakan dominan promosi above the line (ATL). Promo lainnya adalah bekerjasama dengan toko jeans didaerah dengan program diskon, billboard dan pemasangan spanduk. Sementara program promo below the line (BTL) adalah melalui media sosial dan digital.

Agar tetap mampu bersaing, LEA menggunakan strategi untuk menumbuhkan value advocacy pada para pelanggan dilakukan dengan membentuk tim riset.

Mereka selalu melakukan pengamatan dan riset tentang brand awareness, kepuasan pelanggan, perilaku konsumen dan gaya hidup termasuk mengemas promosi produk mirip buatan Amerika.

J.CO Donuts and Coffee

Asli Indonesia! Deretan Merk Terkenal Ini Sering Disangka Merk Asing, Lho

Lezatnya donat dipadu dengan kopi hitam pekat, menjadi daya tarik gerai kopi satu ini. Sukses dengan donat lembut, J.CO Donuts and Coffee kemudian menyajikan yogurt yang sehat lengkap dengan topping buah-buahan.

Produk-produknya dinikmati banyak orang. Kini, gerai J.CO Donuts and Coffee ada lebih dari 262 gerai di 53 kota seluruh Indonesia. Bahkan, JCO juga sudah melebarkan sayapnya dengan membuka gerai di sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Filipina dan Hongkong.

J.Co Donut & Coffee didirikan oleh pengusaha salon asli Indonesia, Johnny Andrean. Ia sebelumnya sukses membesut salon Johnny Andrean sebagai tempat gunting rambut dan creambath untuk pria dan wanita.

Ternyata, tangan dingin Johnny Andrean sukses meracik kopi dan meramu resep donat empuk bersama tim manajemen mereka.

Sepeda Polygon, Juga Asli Indonesia

Asli Indonesia! Deretan Merk Terkenal Ini Sering Disangka Merk Asing, Lho

Kuat dan model kekinian menjadi daya tarik brand sepeda Polygon. Mirip dengan jeans LEA dan donat JCO, Polygon sering disangka merk dari luar negeri. Padahal, sepeda ini awalnya dibuat di Sidoarjo, Jawa Timur oleh produsen Insera Sena.

Kuat dan model kekinian menjadi daya tarik brand sepeda Polygon. Mirip dengan jeans LEA dan donat JCO, Polygon sering disangka merk dari luar negeri.

Padahal, sepeda ini awalnya dibuat di Sidoarjo, Jawa Timur oleh produsen Insera Sena. Kali pertama, Polygon mulai dirakit pada tahun 1989. Hingga kini, sepeda buatan dalam negeri ini telah digowes di 500 outlet yang tersebar di berbagai belahan dunia, dan terdistribusi sampai dengan 33 negara.

Kekuatan sepeda ini teruji di berbaga medan berat. Pada tahun 2017 lalu misalnya, Polygon menjadi sepeda pilihan tim downhill nomor satu dunia. Polygon sukses menuruni tebing curam di rangkaian UCI DH World Cup.

Juga jadi pilihan dan digunakan profesional freeriders kelas dunia Kurt Sorge, untuk dua kali memenangkan Juara Kompetisi Freeride Terekstrem di dunia.

Air Mineral Equil

Asli Indonesia! Deretan Merk Terkenal Ini Sering Disangka Merk Asing, Lho

Coba perhatikan di layar televis saat sidang kabinet di Istana Negara dan gelaran acara internasional dilayar televisi. Niscaya, Anda akan melihat botol kaca hijau bening berisi air mineral tersaji disana. Bila diperhatikan lebih jeli, air bening mineral tersebut bermerk Equil.

Bila hanya membaca merk dan melihat tampilan botolnya yang hijau elegan, Anda akan mengira air botol kaca minuman impor. Ternyata Anda salah, Equil merupakan air mineral asli Indonesia.

Dari berbagai inforrmasi yang Kodingin kumpulkan, air mineral Equil berasal dari sumber air kaki Gunung Salak disekitar Sukabumi dan Bogor, Jawa Barat. Mata air ini banyak mengandung mineral organik yang baik untuk kesehatan.

Equil dikemas di Vila D’Equilibrium, tak jauh dari sumber airnya. Pengemasan yang dekat sumber air ini menjamin kualitas air mineral tetap terjaga. Air mineral langsung dikemas tanpa mendapat perlakukan khusus dengan bahan kimia.

Morgen Sutanto adalah sosok dibalik tenarnya air mineral Equil. Tak hanya Equil, ia pula yang membesut Adem Sari, Sari Puspa dan Vegeta.

Pria kelahiran kota Bandung, Jawab Barat, 6 Juni 1950 silam ini jeli melihat potensi pasar air mineral murni kemasan yang masih kurang pemasoknya. Sebagian besar pelaku usaha air mineral kemasan hanya berfokus ke kemasan gelas dan botol plastik. Sementara itu, air mineral botol premium masih diimpor dari luar negeri.

Padahal, sebagai negara tropis dengan banyak gunung berapi Indonesia memiliki sumber mata air mineral berlimpah di berbagai daerah.

Baca Juga :

Setelah melakukan riset lapangan, pencarian Morgen Sutanto akan sumber air berkualitas baik berhenti di kaki Gunung Salak.

Ia pun melakukan pengetasan kualitas air apakah memenuhi standar dari Codex Alimentarius, sebuah badan yang dibentuk Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) untuk standardisasi air layak minum untuk manusia.

Setelah memastikan semuanya sesuai, ia pun beralih ke desain kemasan. Morgen Sutanto menentukan kemasan Equil alam botol kaca hijau dengan lekuk elegan. Warna hijau pun tak asal pilih. Warna ini menjaga kualitas air tetap baik selama penyimpanan dan pengiriman.

Equil memiliki dua varian produk yaitu natural atau tawar dan bersoda. Kualitasnya yang baik membuat harganya lebih mahal. Harga satu botol Equil 380 ml bila dibandingkan, setara dengan 20 kali harga air minum kemasan plastik.

Leave a Reply